Menghukum Anak Seharusnya yang Mendidik Bukan Menyakitinya

Menghukum Anak Seharusnya yang Mendidik Bukan Menyakitinya

Menghukum Anak Seharusnya yang Mendidik Bukan Menyakitinya

Anak-anak nakal itu mungkin biasa, karena memang demikianlah anak-anak. Merengek meminta jajan atau mainan itu merupakan hal yang wajar jika terjadi pada anak.


Namun bagaimana jika kenakalan itu bukanlah seperti sifat anak-anak pada umumnya, dan apabila dibiarkan justru dapat membawa dampak negatif bagi si anak. Seperti sering berbohong atau bahkan sampai melakukan perbuatan yang dapat merugikan orang lain, mengambil barang milik orang lain tanpa izin misalnya.


Kenakalan seperti itu apabila tidak ditanggapi secara serius justru tidak baik bagi masa depan si anak, karena jika hal itu sudah terbiasa dilakukan sejak kecil maka bukan tidak mungkin akan berlanjut sampai dewasa bahkan sampai tua nanti.


Menghukum dengan cara bukanlah tindakan yang tepat. Cara tersebut justru dapat membuatnya menyimpan rasa dendam, trauma hingga mengakibatkan Ia menjadi anak yang penakut, atau malah mungkin si anak akan semakin tambah nakal.


Selain itu jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk, tentu Andalah yang akan rugi. Mungkin Anda harus mengeluarkan biaya untuk pengobatannya, atau bisa-bisa Anda dapat berurusan dengan hukum karena telah melakukan ke*erasan pada Anak.


Lantas apa yang harus Anda lakukan?


Pertama-tama cobalah bicara dengan hati ke hati pada si anak, mengapa Ia melakukan hal itu. Buatlah Ia merasa nyaman, agar Ia mau bercerita. Dengan begitu Anda akan tahu mengapa Ia melakukannya.


Kemudian berilah pengertian atas apa yang telah Ia lakukan. Usahakanlah agar Anak berjanji tidak mengulangi perbuatannya.


Jika hal tersebut terulang lagi, jika hendak menghukumnya atau memberi sanksi padanya maka haruslah yang dapat mendidik bukan menyakitinya.


Contohnya seperti menyuruh anak untuk menulis kalimat beberapa baris. Misalnya seperti Aku anak yang jujur, Aku anak yang shaleh/shalehah, dan lain-lain.


Dengan begitu selain telah memberikan sanksi pada si anak, Ia pun juga akan sambil belajar menulis bukan?


Atau juga dapat menyuruhnya untuk mengerjakan soal-soal pelajaran yang paling tidak Ia sukai, atau pelajaran yang paling kurang nilainya dibandingkan dengan pelajaran yang lainya. Dengan begitu dapat membuat anak menjadi pintar bukan?


Atau menyuruhnya untuk beristighfar sebanyak 50 kali atau dengan jumlah tertentu misalnya.


Bukankah membiasakan membaca istighfar itu baik, selain mendapatkan pahala maka anak pun akan menjadi terbiasa untuk meminta ampun dan menyesalinya setelah melakukan kesalahan.


Jika dengan melakukan cara-cara di atas namun si anak tidak jera juga, cobalah ulangi dan tambahlah jumlah sanksinya.


Misalnya saja sebelumnya telah membaca istighfar 50 kali, maka selanjutnya tambahkan menjadi 70 kali dan seterusnya.


Atau dapat memotong uang jajannya untuk ditabung dalam beberapa waktu.


Misalnya uang jajan yang diberikan hanya sebanyak 50%, sedangkan yang 50% untuk ditabung, dengan begitu si anak juga dapat belajar menabung bukan?


Anda juga dapat membatasi waktu bermain atau menonton televisi untuk beberapa waktu, dan menyuruhnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif sebagai gantinya.


Jadi intinya cobalah untuk selalu mencari tahu lebih dahulu mengapa Ia melakukan kenakalan itu.


Pahamilah bahwasanya anak tidak akan mungkin dapat menjadi seperti kita karena memang Ia belum dewasa, mereka masihlah anak-anak yang belum dapat berpikir dan bertindak layaknya orang dewasa.


Jadi jangan paksakan untuk menjadi seperti diri kita yang telah dewasa.


Sekali lagi jika harus memberi sanksi padanya, maka haruslah yang mendidik bukanlah yang dapat menyakitinya. Dengan demikian dapat membawa manfaat untuk si anak serta orang tuanya.


Utamakanlah sabar, kasih sayang, dan pengertian dalam menghadapinya, karena itu akan lebih baik.


Namun tentu saja kasih sayang itu janganlah berlebihan, karena berlebihan itu justru belum tentu membuat sesuatu hal menjadi lebih baik.


Semoga bermanfaat...

Load comments